Kabar Terkait
Bijak Berkendara, Perlu Kontrol dan Kendali Bersama
Tilang maupun Kecelakaan bermuara pada satu hal, yaitu berkendara! Makin meningkatnya angka kecelakaan membuat Anda harus ekstra waspada dan bijak berkendara
Banyaknya angka kecelakaan di jalan raya, seperti pada saat mudik dan balik Lebaran kemarin, dari data Polwiltabes Surabaya masih terjadi karena faktor kesalahan manusia. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai bisa tidaknya perilaku bijak berkendara dilakukan.
Perilaku bijak berkendara ini menurut SITI AMINAH pakar transportasi perkotaan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya sebenarnya bisa dilakukan. “Tetapi masalahnya dalam realita yang ada sehari-hari, di jalan raya ada perebutan ruang jalan dalam praktek bertransportasi,” katanya pada Suara Surabaya, Kamis (08/10).
Dijelaskan SITI, ini karena jalan bukan milik 1 orang, melainkan milik publik. Ruang jalan dikonsumsi banyak orang dengan berbagai identitas sosial, ekonomi, dan kultural. Apalagi dalam perkotaan modern, masyarakat dengan beragam identitas ini sangat terlihat.
SITI juga melihat sekarang fenomenanya adalah ketidakteraturan dan kekacauan dalam praktek berlalu lintas. Akibatnya, terjadi benturan kepentingan-kepentingan diantara para pengguna jalan. Jika tidak ada suatu hukum yang mengatur akan muncul ketidakteraturan, kekacauan, dan kecelakaan.
Jadi ditegaskan SITI, mungkin bisa dijalankan perilaku bijak berkendara itu. Ini berarti harus ada suatu kebijakan lain yang tidak hanya dimulai dari diri sendiri, tetapi juga bisa dilakukan oleh pemerintah melalui regulasi yang ada.
“Tinggal law enforcementnya sekarang bagaimana kalau ada yang menyalip atau mengklakson seenaknya sendiri sehingga membuat kebisingan, dan sebagainya,” jelas SITI. Tetapi law enforcement ini tidak terlalu diperlukan jika masyarakat sudah bisa menerapkan bijak berkendara. Persoalannya adalah jika perilaku masyarakat yang berkendara dengan bebas, belum paham dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan kota modern yang heterogen, maka yang terjadi adalah perebutan ruang di jalan.
Mengenai perilaku menyerobot, SITI melihat tiap orang memang mempunyai kebebasan mengekspresikan diri di jalan, tak hanya satu orang tetapi semua juga mempunyai kenginan yang sama. Sehingga harus ada pengendalian diri sendiri, jangan sampai terpanjing untuk ikut melakukan ngebut atau nyerobo.
Ditambahkan SITI di negara-negara lain yang mempunyai sistem transportasi yang terintegrasi, hal ini bisa dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran. “Selain itu juga bisa ditempelkan pesan-pesa di halte, angkot, dan tempat-tempat publik lainnya mengenai hati-hati berjendara. Karena perlu ada kontrol dan kendali bersama,” pungkas SITI.
(sumber:suara Surabaya/penulis: Farida Retnowulan)
(foto:jalanraya)

Artikel Lainnya
-

Ekonomi Indonesia 2010 Semakin Liberal
Demikian diramalkan oleh pemerhati ekonomi, Nida Saadah, melihat program 100 hari Kabinet Indon...Baca» -
Pelari Kenya Dominasi Lomba Lari Suramadu International
Lomba lari internasional yang diselenggarakan di Jembatan Suramadu kemarin kabarnya didominasi ...Baca» -

Mahasiswa Surabaya Tolak Pelantikan SBY-Boediono
Belasan mahasiswa di Surabaya menggelar demo penolakan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden R...Baca» -

Rugi Terus,RPH Terancam Ditutup
Dalam beberapa tahun terakhir Rumah Potong Hewan (RPH) itu langganan rugi, jadi kemungkinan bak...Baca» -

Kualitas Air Kali Surabaya Buruk, Ikan Mulai Menyusut
Kajian eksplorasi Kali Surabaya mengungkapkan fakta terbaru, Kali Surabaya menunjukkan penuruna...Baca» -

Ruang untuk Merokok di Surabaya Mubazir
Makan biaya besar tapi pembangunannya asal-asalan, bahkan para perokok itu bisa mati karena asa...Baca»
