Di Surabaya Dikenalkan Teknologi Canggih Menyembuhkan Katarak
Katarak adalah salah satu penyakit yang menjadi momok masyarakat. Namun, anda tak perlu takut! anda sekarang bisa menyembuhkannya
Terkena katarak, jangan kuatir. Saat ini sudah ada teknologi canggih untuk menghilangkan katarak termasuk mempercepat tingkat kesembuhannya.
Menurut Prof Dr dr GATUT SUHENDRO Sp.M K-VR ahli mata RSU Dr Soetomo Surabaya kalau dulu usai operasi katarak, pasien perlu kacamata tebal dan membutuhkan waktu 1 bulan untuk bisa melihat jelas. Sekarang, dengan teknologi Phaco Emulsification, dalam waktu 1 hari pasien sudah bisa melihat jelas.
Dengan teknologi tersebut ditambah entraoculer lens, tingkat kesembuhan pasien usai operasi katarak mencapai 97%. “Pasien akan lebih nyaman dan dalam waktu normal 5-7 hari pasien bisa melihat secara maksimal bahkan 1 hari juga sudah bisa melihat. Hanya saja, biaya untuk tindakan operasi dengan teknologi Phaco Emulsification relatif mahal bisa mencapai Rp 9 juta-an,”tukas GATUT pada suarasurabaya.net, di sela Wet Lab dan Seminar Perkembangan Bedah Fakoemulsifikasi, Minggu (11/10), di RS PHC Surabaya.
Teknologi yang digunakan tersebut mampu membuat irisan diperkecil jadi 3 mm. Kalau dulu, irisan 10-12 mm. “Kalau menggunakan kacamata tebal, berarti irisan hanya 9 mm. Saat ini irisan lebih kecil bahkan ada yang 2,5 mm. Irisan yang lebih kecil ini otomatis mempercepat proses penyembuhan dan meminimalkan jahitan,”ungkap GATUT.
GATUT mengakui secara umum teknologi canggih memang masih mahal. Namun penderita katarak bisa memilih teknologi baru dengan harga relative terjangkau dan sesuai kebutuhannya. Misalnya, kebutuhan seorang juru tulis tentu beda dengan seorang sopir.
Katarak, kata GATUT, masih menjadi nomor 1 penyebab kebutaan di Indonesia. Frekuensinya sebesar 2% dari total penduduk dan tiap tahun terus meningkat.
Umumnya penderita katarak di atas usia 50 karena faktor ketuaan (senilis). “Anak-anak juga bisa terkena katarak karena faktor congenital sedangkan remaja biasanya terkena katarak karena penyakit apakah diabeter mellitus, mengkonsumsi obat-obatan seperti obat asma, dan sebagainya,”pungkas GATUT.
(sumber:suarasurabaya/penulis: Noer Soetantini)

Artikel Lainnya
-

Berbagi Kasih Natal dengan Kaum Papa
Masyarakat miskin nikmati lezatnya ayam goreng yang dibagikan oleh Yayasan Pondok Kasih di 27 t...Baca» -

Gara-gara Bola Voli, Mahasiswa Stikes Tawuran dengan Warga
Gara-gara sebuah bola voli, sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Suraba...Baca» -
Mahasiswa DKV ITS Unjuk Karya Di Balai Sawunggaling
Hingga 9 Januari 2010, mahasiswa DKV ITS memamerkan hasil karyanya di Taman Budaya Jatim.Baca» -

Pameran Fotografi Perempuan Korban AIDS
Ternyata ada cerita tersendiri di balik pameran foto hasil karya para perempuan pengidap AIDS d...Baca» -

Service Charge Mal di Surabaya Naik 20%
Biaya sewa mal naik tahun 2010 ini, berpengaruhkah pada harga barang-barang?Baca» -

Penari Busan Korea di Cross Culture Festival 2009
Penari Busan ini memadukan tradisional dan modern, semenarik apakah?Baca»
