Dinas Kesehatan Mengawasi Aktivitas Depo Air Minum Isi Ulang
Sekitar 600 hingga 700 aktivitas pengusaha yang memiliki depo air minum isi ulang terus dipantau Dinas Kesehatan Surabaya.
Sekitar 600 hingga 700 aktivitas pengusaha yang memiliki depo air minum isi ulang terus dipantau Dinas Kesehatan Surabaya. Tujuannya, produk mereka tetap terjaga kualitasnya dan tidak merugikan konsumen.
Menurut dr ESTI MARTIANA RACHMI Kepala Dinas Kesehatan Surabaya pada suarasurabaya.net, Kamis (05/11), pemantauan aktivitas depo air minum isi ulang di Surabaya dilakukan rutin setiap 3 bulan sekali oleh Puskesmas terdekat. Dengan pemantauan ini, pengusaha yang belum memiliki ijin bisa terjaring dan akan diminta untuk mengurus ijinnya.
ESTI menjelaskan dalam 3 bulan sekali, pemiliki depo diwajibkan memeriksakan kualitas produksi air minumnya ke Laboratorium yang memiliki peralatan standar. “Di setiap Puskesmas ada bagian Sanitasi Lingkungan. Dan merekalah yang terjun langsung ke lapangan sekaligus mengecek kualitas produksi depo air minum isi ulang. Biayanya juga tidak mahal hanya Rp 50 ribu,”ujarnya.
Sejak dilakukan pemantauan 1-2 tahun terakhir ini, kata ESTI, sebanyak 600-700 pengusaha sudah mengurus ijin untuk membuka depo air minum isi ulang. Sedangkan yang belum berijin, diprediksi ESTI, tidak terlalu banyak namun tetap dipantau oleh Puskesmas untuk segera mengurus ijinnya.
“Dari hasil pemantauan bisa diketahui apakah produksi air minum isi ulang masih memenuhi standar kesehatan atau tidak. Namun kami imbau ke masyarakat, jika membeli air minum isi ulang perlu direbus dulu jika akan dikonsumsi. Selain itu, harus dilihat ijin usaha dan hasil lab yang biasanya ditempel di depo tersebut,”ungkapnya.
Sementara itu, SIGIT TJAHJO HENDRATNO pemiliki depo air minum isi ulang “Aquaadees” di Jalan Semolowaru Surabaya pada suarasurabaya.net, mengatakan, pihaknya sendiri secara rutin selalu memeriksakan produksi air ke laboratorium setiap 3 bulan sekali. Dan hasilnya ditempelkan di depo sehingga konsumen bisa membaca sendiri.
Menurut SIGIT, sebagai pengusaha tidak ingin merugikan konsumen. Bahkan untuk menjamin kualitas produksi air minum, pihaknya mempunyai sumber air minum di Candi Wates Prigen, tanki untuk membawa air serta peralatannya.
“Untuk memindahkan air dari tandon besar ke tendon kecil melalui 17 tahapan. Begitu pula dari tandon kecil ke galon, juga melalui 17 tahapan. Begitu pula dengan filter-nya, juga sering diganti setelah 10 kali dipakai,”kata SIGIT.
(sumber:suara Surabaya/Noer Soetantini)
(foto:itrademarket)

Artikel Lainnya
-

Setttt... Silakan Lirik Tren Modifikasi Motor 2010 di Kenjeran
Mau mengintip dunia bagaimana tren modifikasi motor tahun 2010 mendatang? intiplah di KenjeranBaca» -

Pengamat: Dua Cawali Surabaya Tandingi Arif Afandi
Arif Afandi disebut-sebut sebagai calon kuat wali kota Surabaya, siapakah dua orang cawali lain...Baca» -

Job Market Fair Diserbu Para Pencari Kerja
Job fair memang selalu dinanti. Seperti Job Market Fair yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja, ...Baca» -

Indonesia Berpeluang Lolos Final Piala Asia 2011
Demikian menurut Daniel Rukito, pengamat sepak bola, asalkan tim kita sanggup kalahkan tim Oman...Baca» -

Cabut Toleransi Enam Bulan
Toleransi waktu enam bulan bagi pelanggar Perda Rokok menimbulkan kesan seolah perda itu mubazi...Baca» -

Pembangunan Jalan Tol Porong-Pasuruan Dipercepat
Setelah temui Wapres, Wagub Jatim ungkapkan pembangunan jalan tol alternatif ini akan dipercepa...Baca»
