Kabar Lokal - Sen, 09/11/09 10:04 WIB

Ribuan Facebookers Turun ke Jalan

Koskosanku.com - Ribuan Facebookers Turun ke Jalan

Dukungan Facebookers tak hanya di dunia maya, mereka menggelar aksi nyata di Bundaran HI untuk mendukung Bibit-Chandra

RIBUAN pengguna laman jejaring sosial Facebook, Facebookers, turun ke jalan memberikan dukungan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Mereka berharap KPK terus berjuang memberantas korupsi. Tokoh masyarakat, musisi, dan artis berbaur dalam aksi damai itu. Aksi yang digelar di Bundaran Hotel Indonesia (HI) kemarin pagi itu tidak seperti unjuk rasa pada umumnya. Sebuah panggung didirikan di pintu masuk Hotel Indonesia. Presenter Indra Bekti yang didaulat menjadi pembawa acara membawakan aksi itu layaknya acara musik di televisi.

Di selasela acara, dia menyisipkan kuis teriak “cicak”paling lantang berhadiah kaus. Indra dengan kocak juga memberikan kesempatan bagi masyarakat biasa untuk berorasi soal dugaan rekayasa kriminalisasi terhadap pimpinan KPK nonaktif, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Banyak tokoh dan musisi yang hadir pada acara itu.

Ada mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, Eep Saefulloh Fatah, Yudi Latief,Fadjroel Rachman,Effendi Ghazali, Slank, Netral, Efek Rumah Kaca, Franky Sahilatua, Once Dewa,dan Happy Salma.Ada pula Usman Yasin, penggagas gerakan dukungan sejuta orang di Facebook bagi Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Aksi yang digalang aktivis Cinta Indonesia Cinta KPK (Cicak) itu pun berubah menjadi tontonan menarik.

Hampir semua orang yang melakukan aktivitas pagi itu berhenti untuk melongok dan bergabung. Pengamat politik Eep Saefulloh Fatah saat berorasi mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak bisa diam begitu saja dan hanya menunggu kerja Tim Delapan.Presiden harus turun tangan menyelesaikan kasus Bibit dan Chandra. “Presiden harus bangun,korupsi harus dibasmi dan KPK harus dikembalikan wibawanya. Presiden tak cukup sekadar jaim (jaga imej),” katanya.

Dia mengingatkan,jika Presiden SBY tidak melakukan intervensi terhadap proses ini, bisa jadi publik berkesimpulan, legitimasi hukum tidak bekerja. Jika itu terjadi, masyarakat berpotensi mengambil alih fungsi hukum itu sendiri. Slank yang tampil pamungkas di panggung jadi daya tarik tersendiri.

Memainkan lima lagu, band rock’n roll itu tak banyak berorasi.Tanpa itu pun semuanya sudah tahu bahwa lewat lagu-lagunya, Slank kritis terhadap kondisi sosial. Sebelum ada kasus dugaan rekayasa kriminalisasi terhadap pimpinan KPK nonaktif, band yang dimotori sang drummer Bimbim ini tegas memberi dukungan kepada KPK.

“KPK itu hope (harapan) bagi bangsa ini. Hancur sebuah bangsa kalau sudah tidak punya harapan.Slank selalu punya harapan biar terus ada, ”kata Bimbim seusai turun panggung. KPK sebagai harapan juga disampaikan oleh Kill The DJ, duet rapper yang jauh-jauh datang dari Yogyakarta untuk memberikan dukungan. Lewat lagunya Cicak Nguntal Boyo (Cicak Makan Buaya), mereka bilang, ” Bibit itu tunas, Chandra itu sinar,bagi keadilan.”

Tidak semua bentuk dukungan terhadap pemberantasan korupsi itu disampaikan melalui dukungan terhadap KPK. Efek Rumah Kaca (ERK), band indie yang dikenal dengan lirikliriknya yang subversif dan cerdas, memilih jalan sedikit memutar. Dengan lantang mereka melakukan kritik terhadap DPR yang sudah tuli dan tidak punya hati. Rakyat, menurut mereka masih bisa melawan lewat “Mosi Tidak Percaya”.

“Ini mosi tidak percaya,jangan anggap kami tak berdaya. Ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya,” teriak Cholil sang vokalis. Effendi Ghazali, pakar komunikasi politik,juga menyampaikan puisi “Republik Mimpi Buruk”. “Wahai anak-anak Republik Mimpi Buruk, jangan mimpi jadi Superman. Tapi mimpilah jadi ‘Super-Anggodo’ karena Superman tidak bisa mengatur polisi, tapi ‘Super- Anggodo’ bisa mengatur polisi dan Kejaksaan RI,”ucapnya disambut tawa peserta aksi.

Tawa yang sama juga pecah ketika ”Anggodo Widjaja” ternyata ikut menjadi peserta aksi. ”Anggodo”dengan seragam Kapolri ini diarak dari tepi panggung ke tengah,lalu dinaikkan ke panggung sebelum dilemparkan dan diinjak. Anggodo berseragam Kapolri ini adalah poster hasil rekayasa digital.“Mampus lu Anggodo Bodo,”kata Indra Bekti sambil menginjak poster itu. “Saya hanya pingin liat dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh tokoh yang orasi itu.

Saya sih belum menentukan sikap. Tapi saya merasa, ada yang dizalimi dalam kasus rekayasa kriminalisasi KPK ini,” kata Zulkarnaen, 43,warga Pondok Gede yang datang bersama istri dan dua anaknya

(sumber:seputar indonesia/helmi firdaus/rahmat sahid)
(foto:kompas)

 
Komentar Anda
ADVERTISEMENT
Koskosanku.com

Artikel Lainnya