Selamat Tinggal Bahasa Indonesia
Hemmmm... ternyata siswa-siswa RSBI tertinggal dalam mata pelajaran bahasa indonesia, hal ini baik atau buruk kah?
Pantas saja siswa rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) ”tertinggal” memahami bahasa Indonesia dalam mata pelajaran (mapel) sains.
Para siswa RSBI ini harus berjibaku menyelesaikan tiga kurikulum sekaligus. Akibatnya RSBI di Surabaya harus merujuk pada Cambridge, Inggris serta kurikulum International Competitions and Assessments for Schools (Icas) dari Australia. Apalagi RSBI juga berkewajiban menyelesaikan kurikulum nasional yang dipakai siswa dalam menjalani ujian nasional (UN). Ketiga kurikulum itu memang menjadi muatan yang harus ditanggung RSBI.Tujuannya agar siswa RSBI bisa memperoleh tiga ijazah secara bersamaan setelah lulus nanti.
Untuk UN memiliki standar kelulusan nasional, sementara untuk Cambridge dan Icas sudah memenuhi standar internasional. Kepala SMAN 15 Surabaya Kasnoko mengatakan, beban kurikulum internasional memang mengharuskan RSBI untuk memberikan berbagai tuntutan kurikulum.Makanya sejak masuk tahun ajaran baru, pihak sekolah menggenjot materi kurikulum Cambridge dan Icas sampai Oktober. “Karena ujian Cambridge dan Icas digelar selama Oktober. Baru setelah kedua ujian itu selesai, kami fokuskan diri pada kurikulum nasional untuk persiapan UN,” ujar Kasnoko kemarin.
Dalam pemenuhan kurikulum internasional, pihaknya hanya menekankan mapel Fisika, Kimia,Matematika, dan Biologi. Sebab, keempat mapel itu masuk dalam ujian Cambridge dan Icas yang digelar setahun sekali. “Kalau untuk mapel lainnya kami masih murni memakai bahasa Indonesia secara penuh. Seperti mapel Agama, kami tidak mungkin memakai bahasa Inggris, pasalnya mapel itu tidak masuk ujian internasional,” jelasnya. Seperti diberitakan, Dinas Pendidikan Jawa Timur akan mengevaluasi penyelenggaraan RSBI. Alasannya, program bilingual di RSBI tidak berjalan semestinya.
Hal ini berdampak terhadap siswa RSBI yang dinilai gagal memahami soal-soal UN berbahasa Indonesia. Menanggapi hal itu, Kasnoko menegaskan,pihaknya mulai mewajibkan tenaga pengajar di kelas RSBI untuk memakai pola bilingual dalam penyampaian pelajaran.Harapannya, siswa yang tidak memahami penyampaian materi dalam bahasa Inggris wajib dijelaskan oleh gurunya dalam bahasa Indonesia. “Biar pemahamannya tidak salah, kalau sampai salah nanti siswanya sulit dalam menjalani ujian,” sambungnya.
Saat ini, kata Kasnoko, pihaknya sudah mewajibkan empat mapel untuk menerapkan pola bilingual yakni Kimia, Biologi, Matematika, dan Fisika. Sementara mapel lainnya akan menyusul. “Apapun alasannya pembelajaran di RSBI tidak boleh melupakan materi lokal. Biar siswa tidak mengalami hambatan ketika menjalani UN,” imbuhnya. Untuk itu, pihaknya memberikan pegangan berupa buku panduan mengajar yang berbeda antara guru RSBI dan guru reguler yang ada di sekolah-sekolah lain.
Buku yang wajib dipegang para pengajar di RSBI adalah buku bilingual, buku pedoman Cambridge, buku pedoman Icas dan buku pedoman untuk kurikulum internasional. Upaya pembelajaran dengan pola bilingual menjadi jawaban minimnya kemampuan siswa RSBI dalam memahami muatan lokal. Semua itu dilakukan untuk memudahkan siswa RSBI dalam memahami proses pembelajaran. Sehingga siswa yang sebelumnya mengalami kesulitan dalam penalaran dengan model bahasa Inggris tidak mengalami kesulitan.
Sementara itu,Kepala SMKN 5 Surabaya Sugiono menuturkan, siswa yang masuk ke SMK RSBI tidak memiliki kemampuan cukup dalam berbahasa Inggris.Apalagi ketika penerimaan siswa baru tidak ada tes khusus tentang pendeteksian kemampuan bahasa Inggris. “Jadi banyak siswa yang mengalami kesulitan menangkap pelajaran di RSBI. Input yang kami terima memang lemah dan belum mencukupi,” ujar Sugiono. Untuk itu, pihaknya berharap nantinya Dinas Pendidikan (Dindik) membuat kebijakan baru dengan adanya tes kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni.
Alhasil, pihak sekolah bisa menyampaikan pembelajaran dengan baik dan siswa mampu menyerap pembelajaran itu. Sugiono melanjutkan, pembelajaran yang sulit diterima siswa paling banyak didominasi mapel produktif yang ada di SMK seperti permesinan, otomotif, sampai kegiatan produktif yang lain.Bahkan, mapel sains seperti Kimia,Fisika, Biologi, dan Matematika juga mengalami hambatan. “Kami memang belum lama menerapkan sistem RSBI.Jadi banyak kekurangan yang harus dibenahi,”imbuhnya. Bahkan, sampai saat ini pihaknya terus menyekolahkan guru untuk memahami pembelajaran nasional dan internasional yang ada di RSBI.
“Secara bergilir guru kami sekolahkan lagi untuk bisa memahami tata laksana mengajar di kelas RSBI,” ungkapnya. Kevin Pernawa, siswa SMAN 15 Surabaya mengaku sering menerima pembelajaran dalam bahasa Inggris di kelas RSBI. Pihaknya memang membutuhkan materi untuk persiapan ujian Cambridge. “Tapi sesekali guru kami juga menggunakan bahasa Indonesia,” ungkapnya.
(sumber:seputar Indonesia/aan haryono)
(foto:netsains)

Artikel Lainnya
-

Banyak Proyek di Surabaya Molor
Tahun 2009 tinggal 20 hari, namun banyak proyek Pemkot yang masih molor. Surabaya Sport Center ...Baca» -

Beresiko Tinggi, 28 JCH Kenakan Rompi Khusus
Jemaah Haji yang memiliki penyakit beresiko tinggi diwajibkan mengenakan rompi khusus untuk ant...Baca» -

1500 Lowongan Pekerjaan tersedia di Bursa Kerja Balai Pemuda
1500 lowongan tersedia dalam bursa kerja di Balai Pemuda kemarin, ribuan orang pun memburunya, ...Baca» -

Ancam Blokir Jalan, Warga Ajukan Tuntutan ke RS BDH
Belum juga dibuka, RS Bhakti Dharma Husada sudah menuai beberapa tuntutan dari warga Sememi.Baca» -

17 November, Balai Kota Surabaya Diguncang Gempa
Pasca peristiwa gempa bumi berkekuatan 6,7 skala ricter yang melanda Kota Padang, Sumatra barat...Baca» -

Konser Ridho Rhoma Disoal MUI
Karena ada dugaan kebohongan, MUI minta tinjau ulang ijin Pesta Dangdut Ridho Rhoma di Pamekasa...Baca»
