Kabar Terkait
Aplikasi Smart Traffic Light Mampu Urai Kemacetan
Pernah merasa kesal karena lampu merah menyala terlalu lama? Mahasiswa Petra hasilkan traffic light canggih yang dapat kurangi macet.
Seringkali traffic light yang kita jumpai di jalan-jalan terasa tak adil dan membuat kesal. Tanda lampu merah dan hijau seakan berjalan tak imbang. Sebagian lampu merah berjalan cepat dan sebagian lagi lampu hijau berjalan terlalu cepat.
Rasa kesal dan tak adil ini akhirnya menginspirasi tiga mahasiswa UK Petra jurusan Teknik Elektro menciptakan aplikasi Smart Traffic Light. Tujuannya membantu menanggulangi kepadatan lalu lintas. Ketiga mahasiswa semester III itu yakni Ivan Christanto, Timotius Agung, dan Andi Kurniawan.
Tentu saja ide ini berawal dari pengalaman pribadi saat ketiga mahasiswa terjebak macet. Mereka pun akhirnya membuat aplikasi untuk ujian akhir semester.
"Dengan aplikasi yang kita buat dapat membantu dishub dan kepolisian lalu lintas untuk menganggulangi kepadatan lalu lintas yang disebabkan nyala salah satu traffic light terlalu lama. Padahal di jalur tersebut tidak ada kendaraan," kata Ivan Christanto salah satu pencipta aplikasi di sela-sela pameran hasil karya ujian akhir semester di UK Petra Surabaya, Jalan Siwalankerto, Jumat (4/12/2009).
Aplikasi Smart Traffic Light hasil ciptaan ketiga mahasiswa ini menggunakan tiga level sensor. Ketiga sensor yang digunakan adalah sensor kendaraan, sensor ramai dan sensor ramai sekali.
"Jika ada kendaraan berhenti paling depan akan terkena sensor pertama, yang menandakan ada kendaraan. Timer lampu merah akan berjalan sekitar 30 detik. Jika kemudian ada kendaraan lain di belakang hingga tertangkap sensor kedua, menandakan ramai kendaraan maka lampu merah akan menyala 20 detik," imbuh Ivan.
Agung menambahkan, jika antrean kendaraan hanya tertangkap sensor ketiga, maka lampu merah yang menyala hanya 10 detik. "Tapi untuk timer itu bisa disetting sesuai kebutuhan. Bisa 20 detik, bisa 30 detik, sesuai dengan kondisi lalu lintas di traffic light tersebut," imbuh Agung.
Saat simulasi yang dibuat di dalam maket ketiganya menggunakan studi kasus perempatan traffic light Jalan Sumatera. Untuk maket hanya menggunakan sensor lampu, jika diaplikasikan di lokasi atau realita sebenarnya akan menggunakan sensor metal detector.
Dalam pengerjaan tugas ujian akhir semester (UTS) tersebut para mahasiswa angkatan 2008 itu membutuhkan waktu dua minggu. Seminggu untuk pembuatan software dan seminggu untuk pembuatan maket. "Kami berharap karya ini nanti bisa menjadi solusi kemacetan," imbuh Timotius. (ze/fat)
(Sumber:detikSurabaya/Zainal Effendi)

Artikel Lainnya
-
Dianggap Menghalangi Lintasan Taksi Di Tunjungan Plasa
Parade Mari Bercermin dalam rangka Hari Pahlawan yang diselenggarakan di Tunjungan Plaza diangg...Baca» -

Konser Ridho Rhoma Disoal MUI
Karena ada dugaan kebohongan, MUI minta tinjau ulang ijin Pesta Dangdut Ridho Rhoma di Pamekasa...Baca» -

Cabut Toleransi Enam Bulan
Toleransi waktu enam bulan bagi pelanggar Perda Rokok menimbulkan kesan seolah perda itu mubazi...Baca» -
Mahasiswa DKV ITS Unjuk Karya Di Balai Sawunggaling
Hingga 9 Januari 2010, mahasiswa DKV ITS memamerkan hasil karyanya di Taman Budaya Jatim.Baca» -

Pemasangan Box Culvert Semolowaru, Hampir Rampung
Dalam satu-dua minggu lagi, Semolowaru kembali dapat dilewati dengan lancar. Warga menanti penu...Baca» -
Berantas Markus, Tak Cukup Hanya Pasang Poster dan Spanduk Anti Markus
Sebagai semangat menumpas perilaku tidak etis di lembaga hukum, poster anti makelar kasus pun d...Baca»
