Pakar Geologi: Surabaya, Wilayah Tak Tahan Gempa
Tanah Surabaya jika terjadi gempa, mudah luluh lantak. Banyak bangunan tak didesain tahan gempa. Simak pengamatan selengkapnya
Wilayah Jawa Timur (Jatim), khususnya kota Surabaya, merupakan wilayah yang tidak tahan terhadap gempa bumi, karena kondisi tanahnya yang bersifat “aluvial” (lunak).
Pakar Geologi Surabaya, Amien Widodo mengemukakan hal itu dalam seminar bertajuk “Ancaman Gempa di Surabaya dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Mitigasi”, di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Senin (21/12).
“Kondisi tanah di wilayah kota Surabaya sangat buruk atau bersifat aluvial atau gembuk, sehingga bila terjadi gempa akan mudah luluh lantak,” katanya.
Amien mengatakan, beberapa skala gempa yang terjadi di Aceh dan Meksiko beberapa tahun yang lalu sebenarnya masih tergolong kecil, namun kerusakan menjadi sangat parah akibat kondisi tanahnya yang tidak mendukung.
“Kondisi tanah yang aluvial mengakibatkan terjadinya amplifikasi sehingga ketika gempa itu terjadi, maka bisa meluluhlantakkan semua bangunan yang ada,” katanya menjelaskan.
Kondisi tanah yang buruk dipengaruhi oleh konstruksi bangunan yang tidak didesain dengan bangunan yang tahan gempa. “Banyak bangunan yang saat ini hanya didesain dengan menggunakan tumpukan bata dan berkolom-kolom, padahal untuk konstruksi bangunan ideal harus melalui proses ‘cor’ agar kuat terhadap guncangan gempa,” ucap Amien.
Selain dipengaruhi kondisi tanah yang tidak keras, wilayah Surabaya sendiri juga dilalui oleh dua patahan, yaitu patahan Rembang yang berada hingga ke timur sampai kota Tuban dan Lamongan, kemudian patahan sepanjang kota Mojokerto hingga Pasuruan.
Amien juga mengatakan, di kota Mojokerto dan Surabaya pada tahun 1936 dan 1937 pernah terjadi gempa dan kondisi tersebut diperkirakan akan berulang dalam waktu sepuluh, seratus, dan bahkan ribuan tahun lagi.
“Itu yang dinamakan siklus gempa. Jika suatu wilayah pernah terjadi gempa, maka dalam waktu puluhan hingga ribuan tahun lagi, diperkirakan terjadi gempa serupa dengan kondisi kerusakan yang sama dan di titik yang sama pula,” katanya.
Untuk mengantisipasi terjadinya gempa di Surabaya, ITS Surabaya, bekerja sama dengan ITB, LIPI, BMKG Jatim, Tokyo Institue of Technology, dan NTU Singapura akan melakukan penelitian terhadap kondisi tanah di Surabaya. Dalam penelitian tersebut juga akan mencakup seberapa besar dampak kerusakan gempa yang akan terjadi nanti.
“Proses penelitian akan kami fokuskan terutama untuk bangunan-bangunan, seperti jembatan Suramadu dan tanggul Porong,” papar Amien.
Dengan didapatnya data-data tentang dampak gempa yang ditimbulkan, pihaknya berharap dapat mendesain konstruksi bangunan yang tahan gempa nantinya. ant
(Sumber: surya.co.id/ant)

Artikel Lainnya
-

Zangrandi, Tua Tapi Tetap Melegenda
Didirikan oleh seorang pendatang dari Italia bernama Renato Zangrandi, kini toko ice cream yang...Baca» -

Pemred Surabaya Post Nekat Calonkan Walikota
Meski belum punya kendaraan untuk maju, Dhimam Abror Djuraid siap bertarung dalam Pilwali Surab...Baca» -

KPK Sambangi Asrama Haji
Asrama Haji Embarkasi Surabaya (Ahes) musim haji tahun ini, dikunjungi petugas KPK, mengapa KPK...Baca» -

Surabaya Shopping Festival 2009
SSF identik dengan pesta diskon di beberapa Mall, rutin dijalankan tiap tahun. Bagaimana dahsya...Baca» -

Pelukis yang Eksis di Jerman
Berkat karya-karyanya, Chori, adalah pelukis kelahiran Surabaya kini telah menjadi seniman Pop ...Baca» -

Warga Tolak Pembangunan Pembatas Jalan Semarang
Pembatas jalan dinilai justru mengganggu dan membuat macet, warga dan pedagang ramai-ramai unju...Baca»
