Surabaya Punya Acara - Min, 18/10/09 01:08 WIB

Kerapan Sapi Madura Meriahkan Cross Culture Festival 2009

Koskosanku.com - Kerapan Sapi Madura Meriahkan Cross Culture Festival 2009

Antusiasme penonton di event ini sangat tinggi, termasuk warga Alaska yang enjoy menari mengikuti irama Sronen bersama penari setempat.

Kemeriahan acara Cross Culture Festival (CCF) 2009 terus berlanjut hingga hari ke-3. Hari ini (17/10) giliran budaya asli Indonesia, Kerapan Sapi Madura unjuk gigi di Kenpark, Kenjeran Surabaya.

Acara dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Acara dibuka dengan Tari Pecut yang merupakan tarian persembahan selamat datang. Ke-9 penari prempuan dengan semangat menari lincah di tengah lapangan, beberapa saat kemudian muncul beberapa penari laki-laki sambil membawa celurit (carok), sesekali mereka beradu aksi dengan memainkan celurit. Kemudian disusul pasangan penari perempuan kecil yang seolah menggambarkan sapi yang dikerap, lucu sekali.

Beberapa saat kemudian, muncul Kirap sapi dan penari Sronen yang diiringi musik Instrumen Serenan yang menyimbolkan genderang perang. Penari Sronen menari mengelilingi lapangan diikuti dibelakangnya oleh pasangan sapi yang didandani bak pasangan raja dan ratu. Acara pembukaan diakhiri dengan penyematan kalung selamat datang kepada para tamu yang hadir saat itu.

Umumnya di Madura, kerapan sapi terdapat 3 jenis lintasan, yaitu lintasan 110 meter yang biasa dilombakan di tingkat kecamatan, 130 meter, dan yang paling besar adalah 140 meter. Kesemua lintasan ini lurus, karena sapi beda dengan kuda. Sapi begitu ulit untuk mengendalikan kontrol tubuhnya. Jadi tak heran, sebelum acara kerapan sapi berlangsung, si sapi diajak jalan-jalan terlebih dahulu ke lintasan supaya sapi lebih menghafal jalan.

Kerapan sapi CCF ini menghadirkan 4 pasangan sapi, yang masing-masing adalah pasangan sapi Kalang-Kabut, Lanceng-Kanan, Miksal, dan 3 Putri Ayu. Sistem pertandingannya bisa dibilang unik. Pasangan yang menang akan diadu lagi, hingga mendapatkan juara sejati, pun demikian juga dengan yang kalah, pasangan sapi yang kalah akan diadu lagi hingga mendaptkan juara bawah. Hal ini mengandung filosofi bahwa yang kalah pun masih bisa mendapatkan kesempatan.

Selain itu, yang unik dari acara ini adalah para penonton tidak diperkenankan memakai payung, karena sapi kerap kaget ketika melihat payung, akibatnya kontrol sapi akan sulit dikendalikan.

Apresiasi penonton kerapan sapi CCF sangat tinggi, walaupun pembaca acara kerap mengingatkan agar penonton agar tidak mendekat pagar selama acara berlangsung, tapi tetap saja hal itu dilakukan. Kebanyakan para penonton ingin mengabadikan gambar kerapan sapi yang jarang mereka lihat ini.

Dari hasil pantauan Koskosanku.com, ada turis asing yang rela lesehan di tengah panas matahari hanya untuk mengambil pasangan sapi yang berlari saat dilombakan. Acara ini selesai pada pukul 12.30 WIB.

Para penonton pun puas dengan sajian ini, termasuk Ibu Murni. Ibu berusia 41 tahun ini mengetahui informasi acara Kerapan Sapi CCF ini dari baliho di jalanan. Karena antara rumah Ibu Murni dan lokasi Kenpark tidak begitu jauh, Ibu Murni pun datang bersama keluarganya. Beliau mengaku baru kali pertama melihat Kerapan Sapi ini, hanya saja beliau sangat menyayangkan dikarenakan durasi acara yang begitu singkat. “Sayangnya sapinya yang dilombakan sedikit, Mas. Jadi sebentar sekali Kerapan Sapinya, kurang lama.” kata beliau kepada Koskosanku.com.

Di antara penonton yang menyaksikan Kerapan Sapi CCF, ada beberapa rombongan dari sekolah di Surabaya. Salah satunya adalah SMPN 15 Surabaya. Pak Nur, begitu sapaan akrab beliau, mengajak 18 murid beliau untuk menyaksikan acara ini, ke-18 murid ini diambil dari perwakilan kelas 7 dan 8. “Masing-masing kelas di wakili 1 orang, 1 orang itu ketua kelasnya, keseluruhan jumlahnya 18 orang,” jelas Guru Bahasa Indonesia ini kepada koskosanku.com. Dengan menyaksikan Kerapan CCF ini, Pria yang pernah berdomisili di Sumenep ini mengharapkan murid-muridnya ini bisa mengenal lintas budaya.

Yulinar, siswi SMPN 15 Surabaya, mengaku tidak menyesal datang ke acara ini. Gadis cantik yang duduk di kelas 8 H SMPN 15 Surabaya belum pernah sama sekali menyaksikan kerapan sapi, dan bisa ditebak, Yulinar kagum dengan kerapan sapi. “Saya senang disini, kerapan sapinya unik,” pungkasnya.

Tak hanya itu, selain warga lokal, warga asing pun antusias terhadap kerapan sapi. Contohnya adalah Marrie, warga asli Alaska. Saat acara selesai, Marrie yang datang bersama ke-4 temannya ini asyik berjoget-joget mengikuti irama tarian Sronen di lapangan bersama penari Sronen, “I’m very, very excited” pungkasnya kepada Koskosanku.com. (r2/kos)

Foto Lainnya:

 
Komentar Anda
ADVERTISEMENT
Koskosanku.com

Artikel Lainnya