Pameran Fotografi Perempuan Korban AIDS
Ternyata ada cerita tersendiri di balik pameran foto hasil karya para perempuan pengidap AIDS di CCCL.
Siapa yang mau jadi terinfeksi dengan HIV/AIDS? Apapun penyebabnya, pasti tidak ada yang mau terinfeksi salah satu virus yang paling ditakuti di dunia ini. Tapi bagaimanapun, tak dapat dipungkiri manusia-manusia yang terinfeksi virus tersebut memang ada di sekitar kita, termasuk di Surabaya.
Ekspresi-ekspresi dan imaji para perempuan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS, red) bisa Anda lihat di CCCL Surabaya mulai senin, 26 Oktober hingga 30 Oktober mendatang. Salah satu contohnya adalah foto nomor 22 yang berjudul MALU, digambarkan dengan seorang anak kecil yang mengintip malu di balik daun pintu, dibawah foto tersebut ada sedikit narasi, “Pertama kali aku dinyatakan positif HIV oleh Konselor, aku setengah terkejut. Sebelumnya aku tidak begitu sadar tentang HIV. Bagiku HIV antara ada dan tidak ada. Selain itu aku merasa malu dan takut ketahuan statusku oleh orang lain. Aku takut dikucilkan orang lain. Betapa malunya aku kalau statusku diketahui oleh orang lain”
Keseluruhan terdapat lebih dari 60an foto, dari foto tersebut seluruhnya terdapat 6 kisah. Jadi 1 kisah bisa terdiri dari lebih dari 1 foto. Benang merah foto-foto tersebut terletak pada tema, seperti “Aku dan Diriku”, “Aku dan Pekerjaanku, “Aku dan Keluargaku” serta “Aku dan Harapanku”.
Uniknya, kesemua foto tersebut diambil oleh 6 orang perempuan ODHA, padahal mereka tidak punya basic fotografi. Tapi hasilnya sungguh seperti sang fotografer berpengalaman.
Saat ditemui oleh tim Koskosanku.com, Rabu (28/10), Aguzsuprata, selaku fasilitator fotografi mengaku bangga dengan hasil-hasil fotografi para Perempuan ODHA ini. “Selama 3 bulan kami melakukan pelatihan mengenai fotografi, mulai dari hal yang paling basic, karena background mereka dari golongan menengah ke bawah,” ungkap pria berkacamata ini.
Pelatihan tersebut memang memberikan semacam media untuk mengekpresikan apa yang ada dalam hati mereka dalam bentuk fotografi, jadi mereka benar-benar dilatih dari mulai cara memegang kamera, dan teori-teori memotret. Kemudian mereka dibiarkan untuk mencari obyek memotret sesuka hati mereka, lalu dipresentasikan atas hasil foto yang mereka lakukan. Selama kegiatan berlangsung mereka didampingi oleh para konselor dari yayasan Hotline Surabaya dan fasilitator fotografer.
Baik dari konselor maupun fasilitator fotografer mengaku pada awalnya mendapat kesulitan untuk melakukan pendekatan kepada 6 perempuan ini. “Mereka pada awalnya sangat tertutup, itu bisa dilihat dari sorot matanya. Kemudian kami mencoba membaur ke mereka, makan sama-sama dengan menu yang sama atau masuk dalam setiap obrolannya,” jelas Aguzsuprata.
“Satu hal yang aku tangkap dari mereka adalah sebuah ketulusan, mereka belajar fotografi memang tidak tahu dan memang ingin belajar fotografi, aku senang mengajar mereka,” ungkap pria yang awalnya menjadi fotografer prewedding ini. (r2/kos)
Foto Lainnya:

Artikel Lainnya
-

Dinas Kesehatan Mengawasi Aktivitas Depo Air Minum Isi Ulang
Sekitar 600 hingga 700 aktivitas pengusaha yang memiliki depo air minum isi ulang terus dipant...Baca» -

PHK di Jatim Trennya Meningkat
Angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Timur trennya terus meningkat.Baca» -

Tembang Jawa Eksis di Royal Plaza
Tembang jawa, kini mulai merambah kota. Terbukti dari antusiasme masyarakat untuk ikut dalam lo...Baca» -

Menikmati Buah Raksasa di Undaan
Lahan yang dulunya bekas SPBU Jl. Undaan, kini disulap menjadi taman kota yang indah. Taman d...Baca» -

7000 Umat Kristiani Mensukseskan Surabaya Sejahtera
Dalam rangka menyambut Natal, umat Kristen dari berbagai gereja di Surabaya melakukan bersih-be...Baca» -

KPK Sambangi Asrama Haji
Asrama Haji Embarkasi Surabaya (Ahes) musim haji tahun ini, dikunjungi petugas KPK, mengapa KPK...Baca»








