Kabar Terkait
Magnetisasi Parade Juang Surabaya
Parade Juang Surabaya menjadi magnet bagi warga Surabaya, sejumlah masyarakat tumpah ruah menyaksikan parade ini.
Tank-tank besar, kendaraan perang, sepeda onthel jaman dulu dan suasana kota Surabaya tempo doeloe bisa kita saksikan di Parade Surabaya Juang Sabtu siang (01-11) kemarin. Acara ini juga sebagai pembuka dari serangkaian acara menyambut Hari Pahlawan.
Parade dimulai pukul 14:00 WIB, semua peserta parade yang berjumlah 50 lebih ini berjalan mulai dari Tugu Pahlawan, Hotel Majapahit, Grahadi dan berakhir di Taman Surya (Balai Kota Surabaya).
Sejumlah Parade pun turut meramaikan acara ini, diawali dengan parade tank-tank perang, dengan gagahnya berjalan menelusuri jalan Kramat Gantung. Ada juga Bapak Bambang DH yang naik diatas panser (tank), lengkap dengan helm serat lambaian tangan dan senyumannya yang menyapa warga Surabaya yang tengah menyaksikan acara tersebut. Kemudian disusul oleh barisan Pramuka yang dengan membawa bendera merah putih.
Ada pula marching band dari AAL dan TNI, parade dari Sat Lantas Polwiltabes Surabaya yang mengkampanyekan mengenai berkendara yang baik, lengkap dengan peringatan kecelakaan dan ilustrasi korban kecelakaan yang membawa plank peringatan “Langgar Marka, penyebab Laka Tertinggi”. Selain itu Sat Reskrim Polwiltabes Surabaya pun seolah tak mau kalah dengan rekannya ini.
Parade semakin meriah dengan adanya Marching Band dari UPN Veteran, parade baju adat tiap propinsi, parade siswa-siswa dan guru berprestasi, parade tentara Veteran lengkap dengan sepeda onthelnya, parade mobil kuno, pelajar dengan batik buatan sendiri, Seni Gajah-Gajahan Sido Rukun Ponorogo, dan Laskar Pelajar Tempoe Doeloe
Parade Juang Surabaya memang mempunyai daya tarik sendiri di mata masyarakat kota Surabaya, seperti yang dituturkan oleh Bu Sutinah, warga Bubutan. “Pengen lihat sepeda onthel dan tank-tank perang mas, lagian rumah saya dekat dari sini,” kata Ibu berkacamata ini.
Perjuangan arek-arek Suroboyo masih tertanam jelas dalam ingatan Bapak Budiman. Bapak yang juga turut berjuang bersama arek-arek Suraboyo ini menceritakan dengan penuh semangat kepada Koskosanku.com. “Dulu itu gak ada yang namanya senapan, modal kita hanya bambu runcing dan modal semangat Allahu Akbar,” kata bapak mengawali ceritanya.
Warga asli Bulak Banteng ini masih mengingat jelas kata-kata Bung Tomo yang digaungkan kepada masyarakat Surabaya waktu itu. “Luwih becik mati daripada dijajah wong Bule,” kata Bapak empat orang ini.
“Dulu itu jembatan merah yang ada sekarang, bukan merah jembatannya, Mas. Tapi, di sungai Kalimas di bawah jembatan itu, penuh darah, merah,” tambah bapak yang sekarang berprofesi sebagai tukang koran ini.
Diakui bapak Budiman bahwa dengan adanya Parade Juang ini seolah memberi kesan bahwa adanya suatu tanda semangat juang Bapak-bapak Veteran yang turut andil dalam parade tersebut masih tinggi. “Semoga semangat-semangat itu bisa ditularkan kepada anak muda zaman sekarang,” pungkas Bapak yang pernah berprofesi sebagai Satpam di Tunjungan Plaza ini. (r2/kos)
Foto Lainnya:

Artikel Lainnya
-

Peringati Hari Pahlawan, MNCN Gelar Acara Donor Darah
Hari Pahlawan selalu diperingati dengan nuansa yang berbeda-beda. Seperti MNCN yang menggelar a...Baca» -

SMAN 20 Juara Jatim Robot Contest
Lomba robot tingkat pelajar yang baru pertama digelar PENS ITS yang diikuti 140 tim pelajar dij...Baca» -

Penyebab Tingginya Angka Korban Kecelakaan Versi Polisi
Selama Operasi Ketupat Semeru 2009 di Jawa Timur, korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas d...Baca» -

Kontraktor Box Culvert Semolowaru Tuntaskan Proyek
Pembangunan Box Culvert Semolowaru yang memakan waktu cukup lama, kabarnya akan segera dituntas...Baca» -

Merokok di Angkot, Penumpang Diturunkan
Jangan marah jika anda diturunkan dari angkot karena merokok, karena Perda rokok telah berlakuBaca» -

Masyarakat Indonesia Berhak Tonton
MUI mestinya tidak berhak mencekal film yang terinspirasi peristiwa tewasnya wartawan Australia...Baca»









