Bolo Dewe - Sen, 05/10/09 13:49 WIB

Dikira Hangus Terbakar, Suami Histeris

Koskosanku.com - Dikira Hangus Terbakar, Suami Histeris

Keluarga memang jauh lebih berharga dari pada harta. Simak pelajaran hidup Ibu Mahmud dan keluarga, dalam menghadapi musibah kebakaran yang menghanguskan puluhan kamar kost miliknya..

Banyak permasalahan yang datang mendera hidup. Entah itu, penderitaan dalam bentuk sakit yang menimpa tubuh, atau musibah yang datang begitu tiba-tiba. Ketika masalah tersebut menghampiri, ada baiknya kita menyikapinya dengan bijak, serta berusaha mengambil sisi positif yang mungkin tersimpan di dalamnya.

Hal inilah yang dilakukan oleh seorang ibu berusia 46 tahun yang rumahnya hanya sisa puing-puing karena terbakar habis. Ibu Mahmud, itulah namanya.

Kebakaran yang terjadi pada tanggal 30 September lalu, seperti mimpi buruk bagi keluarga besar wanita asli Surabaya ini. Wajahnya menerawang ketika menjelaskan kronologi kebakaran yang telah menghanguskan 30 kamar kost miliknya, serta dua rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal, dan toko tempatnya mencari nafkah.

“Kebakarannya itu sangat cepat mbak. Jam 16.45 itu api udah kelihatan dari belakang rumah. Saya yang tahu kejadian itu, sudah tidak bisa berfikir apa-apa. Langsung saya bawa lari dua cucu saya ke kelurahan” ujarnya.

Memang, kebakaran tersebut terjadi begitu cepat. Beberapa warga menuturkan, tidak sampai satu jam api sudah membabat habis seluruh bangunan yang ada di daerah tersebut.

“Saya juga kaget. Pokoknya tidak sampai satu jam an, api itu udah membakar semua yang ada. Sudah, saya tidak punya apa-apa ini” ungkap wanita berambut pendek ini. “Sebenarnya ada beberapa barang yang keluarga sempat selamatkan. Tapi anehnya barang-barang yang sudah kami keluarkan dari rumah itu, kok ya tidak ada. Banyak diambil orang,” imbuhnya.

Kini tidak ada yang tersisa lagi harta benda yang mampu digunakan untuk meyambung hidup keluarga Mahmud. “Jangankan barang-barang, baju saja saya tidak punya. Ya hanya yang menempel disini ini. Sebagian dapat sumbangan baju-baju bekas, tapi ada juga yang baru. Tapi sedikit,” tuturnya.

Selepas kebakaran tersebut, keluarga besar ini terpaksa harus tinggal di kelurahan. Karena bingung akan pindah dimana “Selama tiga hari kami tinggal di sana (kelurahan.red). Pelayanan yang diberikan pun cukup baik. Makan tiga kali sehari, dan para pegawai disana juga ramah-ramah,” ungkapnya sembari tersenyum.

Namun keluarga ini kini bingung harus meminta tolong kepada siapa lagi untuk tempat menginap, karena kelurahan hanya memberikan bantuan selama tiga hari saja. Saat ditemui oleh reporter Koskosanku.com, keluarga besar Ibu Mahmud sudah tinggal di tenda-tenda darurat yang dibangun di samping rumah yang terbakar.

Tidak terdapat kasur atau bantal, serta selimut yang layak sebagai tempat tidur. “ya mau gimana lagi adanya seperti ini. Kami disini juga bingung mau mandi dimana. Paling di tempat mandi umum dekat pasar. Tapi, tiap mandi bayar seribu. Keluar uang lagi,” tandasnya.

Untuk membantu mendapatkan uang, anak dari Ibu Mahmud harus meminta bantuan kepada warga yang melintas jalan Tundaan, dengan cara membawa kotak bertuliskan “Bantuan korban kebakaran”.

“Sementara hanya ini mbak yang bisa kami lakukan. Soalnya juga bingung harus bagaimana lagi. Sukur-sukur ada yang mau membantu lebih untuk dapat membangun rumah,” ujarnya.

Ketika ditanya sampai kapan akan tinggal di tenda darurat ini, Ibu tiga anak ini terdiam sejenak. “Belum tahu sampai kapan. Mungkin menunggu sampai kami bisa membangun rumah,” ungkapnya sembari melirik rumahnya yang sudah hangus terbakar.

Walaupun beberapa saudara yang ada di Surabaya menwarkan agar keluaga Mahmud tinggal dirumah mereka, namun keluata ini menolak, terutama sang suami. “Alasannya bapak, supaya tidak merepotkan orang. Makanya ya udah disini saja,” imbuhnya.

Saat mengungkap kembali memori kejadian kebakaran tersebut, ada hal yang membuat suami dan keluarganya sampai pingsan dan menangis histeris. Bukan karena harta benda yang dilalap api, tapi menghilangnya Ibu Mahmud dan ke dua cucu, ketika kebakaran itu terjadi.

“Bapak itu nangis-nangis histeris. Bahkan sampai pingsan segala. Keluarga besar kami juga begitu. Soalnya selesai kebakaran, kami nyari-nyari ibu kok gak ada. Makanya kami berfikir kalau ibu juga ikut terbakar di dalam rumah,” ungkap anak ke dua ibu Mahmud.

Tapi alangkah bersyukurnya, karena ternyata Ibu Mahmud dan ke dua cucunya selamat, ketika berlari meminta bantuan ke kelurahan. “Saya waktu lari ke kelurahan itu gak ada yang tahu. Makanya keluarga mengira saya ikut terbakar, padahal minta bantuan,” kenangnya sembari tersenyum.

Walaupun harta benda yang selama ini mereka simpan untuk menghidupi anak dan cucu, namun rasa syukur tetap terucap karena tidak ada satupun keluarga menjadi korban. “Alhamdullah, semua keluarga bisa tetap berkumpul walaupun suasananya sedang susah seperti ini,’ ungkapnya. Banyak harapan yang tersimpan setelah kejadian kebakaran ini. “Saya pengen bangun rumah lagi”, imbuhnya.

Kesedihan memang tampak di raut wajah Ibu Mahmud dan keluarga, karena rumah yang terbakar ini merupakan rumah beliau sedari kecil. Segala kenangan masa kanak-kanak hingga berkeluarga, tersimpan di sana. Bahkan rumah yang seharusnya menjadi memori akan almarhum sang ayah pun juga tinggal puing-puing.

Namun, di balik segala kesusahan tersebut, keluarga besar ini masih mampu bersenda gurau dan tertawa, seolah keluarga dan kebersamaan jauh di atas segalanya. “Selama keluarga saya bisa kumpul, saya sudah senang, pungkasnya diakhir wawancara. (gal/kos)

Foto Lainnya:

 
Komentar Anda
ADVERTISEMENT
Koskosanku.com

Artikel Lainnya