Musik dan Film - Rab, 25/11/09 09:01 WIB

Sinema Indonesia Berputar Balik?

Koskosanku.com - Sinema Indonesia Berputar Balik?

Wajah film Indonesia kembali tercoreng, bioskop kembali marak film bergenre horror-sex, mirip era film Indonesia beberapa dekade lalu.

Tentu kita masih ingat ketika zaman ketika bioskop Indonesia dipenuhi dengan film murahan yang lebih menonjolkan sisi sensualitas para pemain daripada estetika dan kualitas dari film tersebut? Memang, film-film tersebut pernah mengalami ‘masa jaya’-nya, hingga kemudian akhirnya melemah dan tak laku lagi.

Pada masa itu bioskop sangat sepi dengan film-film Indonesia. Wajah sinema Indonesia kemudian bangkit sekitar tahun awal tahun 2000-an, film keluarga Petualangan Sherina adalah gaung dimulainya kebangkitan itu. Kemudian disusul Ada Apa Dengan Cinta film yang laku keras di pasaran. Dari situ kemudian perlahan tapi pasti banyak film buatan sineas muda yang menghiasi layar bioskop Indonesia, hampir tiap minggu ada premier film baru buatan anak negeri.

Yang menarik dari semua itu adalah jalan kebangkitan yang memutar balik ke era film yang tak mengutamakan segi kualitas, ya kita tau sendiri lah wajah bioskop dan sinema Indonesia sekarang seperti apa.

Film misteri seperti saat era Suzana kembali marak, dari hantu yang bernama kuntilanak, suster ngesot hingga pocong pernah menjadi judul film. Tak ayal lagi, hampir semua film bergenre horror tersebut selalu dibumbui dengan adegan syur yang mengumbar sensualitas para pemainnya. Nama Dewi Perssik dan Julia Perez sering disebut-sebut untuk kasus ini.

Ironis kan? ditengah era modernitas seperti sekarang, justru film Indonesia menyuguhkan hal-hal berbau mistis yang kurang pantas dipertontonkan. Belum lagi film yang kedapatan menyontek film luar. Film Pijat Atas Tekan Bawah yang diawali dengan kontroversi pemainnya, Saipul Jamil dan Kiki Fatmala ternyata menjiplak film Bollywood berjudul Dostana (2008). Makin parah juga ketika Film Dostana ini juga dicontek lagi oleh Film yang berjudul Suka Ma Suka yang dibintangi Laudya Chyntia Bella dan Teuku Wisnu, apalagi tanggal premier film-film Indonesia tersebut tidaklah jauh berbeda? Hmm.. beginikah wajah sinema Indonesia?

Di tengah keterpurukan itu, masih ada beberapa suguhan di bioskop Indonesia yang berkualitas. Anehnya para produser film tatap saja lebih suka untuk memproduksi film-film yang seperti penulis sebutkan sebelumnya. Mana film edukatif seperti Laskar Pelangi? Film komedi dewasa berkualitas seperti Arisan? Atau film yang menjunjung nilai nasionalisme seperti Nagabonar Jadi 2? Toh dengan memproduksi film-film bergenre tersebut pasti diminati masyarakat.

Sebagai contoh diputarnya kembali film Nagabonar. Film ini pernah diputar tahun 1987, penontonnya pun beraneka ragam, dari mulai orang tua hingga anak muda. Itu berarti masyarakat sekarang memang butuh film Indonesia yang benar-benar berkualitas. Mudah-mudahan kebangkitan sinema Indonesia ke depannya adalah bukan kebangkitan yang semu. (r2/kos)

 
Komentar Anda
ADVERTISEMENT
Koskosanku.com

Artikel Lainnya