Kabar Terkait
Artikel Terbaru
Mitos Anak Tunggal
Mitos anak tunggal yang berkembang di masyarakat apakah selalu benar?? Benar atau salah total?? Cek kebenaranya disini.....
Pasangan suami istri yang telah lama menikah namun tak kunjung juga dikaruniai seorang buah hati, pasti akan sangat mendambakan tangisan seorang bayi dirumahnya. Lalu bila Tuhan memberikan kesempatan tersebut hanya sekali saja kepada pasangan itu, tentunya akan dirawat dengan sebaik mungkin.
Nah, banyak mitos yang berkembang di masyarakat jika anak tunggal itu manja, mau memang sendiri, arogan, dan egois. Karena semua apa yang anak tersebut inginkan biasanya dituruti oleh sang orang tua. Maklum, anak satu-satunya.
Namun, apakah benar mitos yang beredar di masyarakat tersebut ? Berikut riset tentang mitos seputar anak tunggal yang bisa jadi benar atau malah sebaliknya salah total.
Mitos: Anak tunggal agresif dan bossy
Fakta: Meski pada awalnya anak tunggal menggunakan taktik "menguasai" seperti yang biasa mereka lakukan dirumah, namun mereka kan cepat belajar bahwa sikap "menguasai" nya tidak akan berlaku dalam pergaulan dengan teman-temannya. Sebaliknya sikap agresif dan bossy justru akan membuatnya dijauhi. Kecenderungan anak tunggal yang ingin selalu terlibat dan diterima lingkungannya, akan memacu mereka mengubah sikap tersebut.
Mitos: Anak tunggal cenderung lebih pendiam, tidak suka bercanda
Fakta: Sikap pendiam anak bukan didasarkan pada jumlah saudara yang dimilikinya, melainkan lebih kepada kelas sosial ekonominya serta cara pengasuhan dari orangtua dan lingkugnan tempat tinggalnya.
Mitos: Semua anak tunggal punya teman khayalan untuk menemani kesendiriannya.
Fakta: Tidak ada fakta ilmiah yang mendukung mitos tersebut. Sebuah penelitian mengemukakan bahwa kecenderungan memiliki teman khayalan tidak hanya berlaku pada anak tunggal. Orang sakit, cacat, atau mereka yang terisolasi juga cenderung memiliki teman khayalan untuk mengatasi kesendirian, melawan ketakutannya, serta mengalahkan perasaan lemahnya dalam berhubungan dengan orang dewasa atau anak yang lebih tua.
Mitos: Anak tunggal manja
Fakta: Anak tunggal tidak selalu manja, bahkan dalam pergaulan dengan teman, tidak ada perbedaan sikap antara anak tunggal dan mereka yang bersaudara.
Mitos: Anak tunggal Egois
Fakta: Setiap anak pada satu atau beberapa kesempatan akan merasa bahwa dunia berpusat pada dirinya,sehingga mereka akan melihat dari satu sisi saja. Namun, seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaannya mereka akan mulai melihat dari sisi orang lain. Dengan ketiadaan saudara, menggali sikap berbagi sejak dini menjadi tugas orangtua.
Mitos: Anak tunggal mau menang sendiri
Fakta: Anak bersaudara justru cenderung lebih ingin menunjukan sikap lebih berkuasa dibandingkan anak tunggal. Hal tersebut disebabkan sejak kecil mereka dipaksa untuk saling berbagi dengan saudaranya baik berbagi mainan, televisi, hingga perhatian orangtua. Untuk itu mereka dituntut untuk saling berkompetisi memenangkan persaingan tersebut. salah satu caranya yaitu dengan berteriak agar ia lebih didengar orangtuanya dibandingkan saudaranya. Sementara anak tunggal akan selalu didengar oleh orangtuanya, oleh sebab itu mereka akan cenderung lebih tenang dibanding mereka yang punya saudara.
Mitos: Anak tunggal selalu tidak mandiri
Fakta: Ketiadaan saudara membuat anak tunggal tidak punya tempat untuk bergantung, selain itu arahan dari orangtua juga akan membuat anak tunggal justru lebih mandiri dari mereka yang punya saudara.
Mitos: Anak tunggal terlalu cepat dewasa
Fakta: Anak dengan saudara akan lebih sering berinteraksi dan berbicara dengan saudaranya dibandingkan orangtuanya. Sementara, anak tunggal akan lebih sering berinteraksi dengan orangtuanya, sehingga menjadikan orangtuanya sebagai role model utama. Dengan demikian ia akan meniru perilaku orangtuanya dari gaya bicara hingga dan kemampuan beralasan yang dimiliki orang dewasa. Hal tersebut yang dibutuhkan bagi masa pertumbuhannya yang penuh dinamika dan menjadi hal yang bagus tentunya.
Meski mitos-mitos di atas dan mitos lainnya banyak berkembang dimasyarakat, namun bukan berarti Anda menelannya mentah-mentah. Perkembangan dan sikap anak, tidak bisa kita lihat dari mitos. Semua itu tergantung kepada Anda, bagaimana cara mendidik anak.
Kalau Anda merasa bahwa anak tunggal sesuai dengan mitos yang Anda percaya, maka itu juga akan berpengaruh kepada sistem dan cara mendidik Anda. Lebih baik kenali sifat anak dan temukan cara mendidik yang tepat. (gal/bbs/kafebalita)

Artikel Lainnya
-

Belanja Tanpa Membabi-Buta
Kalau sudah waktunya shopping, apalagi ada diskon atau sale, duh... wanita pasti susah mengenda...Baca» -
Tips Melebarkan Jaringan Bisnis
Salah satu hal terpenting dalam bisnis adalah networking atau koneksi. Untuk memperluas jaringa...Baca» -

Si Liar yang Bermanfaat
Alang-alang ternyata banyak gunanya. Mengobati jantung koroner, gangguan prostat, darah tinggi ...Baca» -
Strawberry Putihkan Gigi
Meski sudah diolah jadi jus, kue atau selai, khasiat buah ini tidak berubah! Anti kanker, obat ...Baca» -

Mainkan PSP di SE Aino
Ponsel Sony Ericson yang booming dengan seri Walkman-nya, kini mencoba mengoptimalkan sisi lain...Baca» -

Tren rambut 2010 Seperti Apa?
Mari kita prediksi model rambut di tahun 2010, dilihat dari tren terakhir.Baca»
