Pendidikan dan Anak - Min, 08/11/09 10:38 WIB

Ketika Anak Mulai Berpacaran

Koskosanku.com - Ketika Anak Mulai Berpacaran

Bagaimana seharusnya sikap Anda sebagai orang tua saat anak remaja Anda mulai berpacaran?

“Ma, Pa, Irma sudah punya pacar lhoo, namanya Andre, Ma… teman sekelas Irma” cerita Irma pada orang tuanya.

Anda tentu pernah mendapati anak Anda mengatakan hal yang serupa pada Anda, Anda mungkin kaget. Atau mungkin Anda mendapati anak Anda lagi telepon-teleponan yang lain dari biasanya, ya ketika anak tersebut sedang jatuh cinta, itulah mereka, sangat manusiawi.

Cinta adalah anugerah yang sangat hakiki dimiliki oleh tiap manusia, siapapun tentu pernah yang mengalami jatuh cinta. Cinta di sini dalam arti luas, cinta kepada orang tua, pasangan, saudara, dan anak-anak Anda. Kadang cinta itu datang secara tiba-tiba, merasuk ke jiwa tiap manusia, tak peduli kepada siapa virus merah muda ini menyusup ke relung hati anak adam, termasuk kepada anak-anak Anda.

Ketika anak mulai jatuh cinta, haruskah rasa itu ditepis? Karena memang ada yang bilang bahwa ini bukan waktu yang tepat bagi anak untuk merasa indahnya merajut cinta, pendidikan dijadikan alasan utama untuk hal ini. Selain itu secara emosional, sang anak pun belum siap dengan segala kondisi yang ada.

Sebenarnya yang paling ditakutkan dari orang tua ketika anak sedang jatuh cinta dan berpacaran adalah sang anak masuk dalam dunia ini secara berlebihan hingga terjerumus ke pergaulan bebas. Orang tua juga takut kalau sang anak sampai mengesampingkan kewajiban-kewajibannya sebagai anak dan pelajar, dan terbatasi dalam lingkungan pergaulan (anak terpatok bergaul hanya dnegan pacarnya) padahal saat itu justru yang dibutuhkan pada masa itu adalah membangun hubungan yang seluas-luasnya agar dapat menyerap masukan-masukan yang kelak dapat memperkaya jiwanya.

Anak umumnya mengalami fase ini saat memasuki usia remaja atau masa puber (SMP), ya walaupun ada beberapa anak yang saat SD pun sudah mengklaim bahwa dirinya sudah punya pacar. Anda sebagai orang tua tentunya tak perlu cemas dan bertindak berlebihan menghadapi semua ini. Karena cinta yang mereka jalin hanyalah cinta monyet, cinta bujuk-bujukan, tak mungkin langsung serius dan melenggang ke jenjang pernikahan. Ya anggap saja hubungan mereka hanya sebagi motivator ke hal-hal yang baik.

Anak memutuskan untuk berpacaran karena mencari pribadi untuk berbagi kasih sayang dan sosok seumuran yang bisa dijadikan sebagai tempat curhat. Anak-anak pada masa itu terkadang tidak nyaman dengan kondisi pencarian jati diri dan mungkin orang tua yang masih menganggap dirinya sebagai anak kecil, hal itu membuat mereka tak nyaman hingga mencari pelarian yang salah satunya adalah dengan pacaran.

Jika Anda mengalami kejadian anak Anda sedang jatuh cinta bahkan sudah berpacaran, beberapa poin ini mungkin berguna bagi Anda.

  • Bicaralah dari hati ke hati. Tanyakan pada anak Anda kenapa bisa sampai memutuskan untuk berpacaran. Tanyakan pula apa yang dia sukai dari pacar anak Anda sehingga dia bisa tertarik padanya. Dengan ini secara tidak langsung Anda akan tau sosok bagaimana yang dia cari selama ini yang mungkin tidak ada dalam diri Anda.

  • Bimbing mereka agar tak terjerumus ke hal-hal yang diluar batas. Berikan info tentang batasan-batasan mana yang boleh dan tak boleh dilakukan termasuk mengenai kenakalan remaja dan akibat-akibatnya yang saat ini marak terjadi.

  • Pastikan Anda tau dan mengenal baik siapa orang yang mencuri hati anak Anda. Tanyakan tentang pendidikan dan dimana dia tinggal serta latar belakang keluarganya. Hal ini untuk menghindari anak Anda agar tidak memilih orang yang salah ketika sedang pacaran.

  • Berlakukan aturan dan batasan-batasan ketika sedang berpacaran. Sebagai contoh ketika jam malam, Anda harus membatasi sampai jam berapa harus sampai dirumah dan dalam acara apa anak Anda boleh keluar bersama pacarnya.

  • Anda tak perlu cemas dan bertindak berlebihan jika mengalami hal ini karena justru membuat anak terkekang, satu-satunya jalan utama bagi anak Anda untuk tidak masuk dalam dunia ini secara berlebihan adalah pembekalan pendidikan agama dan moral sejak dini. (r2/foto:corbis)

 
Komentar Anda
ADVERTISEMENT
Koskosanku.com

Artikel Lainnya