Tentang Cinta - Kam, 12/11/09 09:33 WIB

Mitos-Mitos Pernikahan

Pernah mendengar bermacam-macam mitos pernikahan? Sebetulnya, benar atau tidak sich mitos-mitos itu? Cek di sini..

Mendekati hari-hari pernikahan tentunya Anda akan semakin disibukkan dengan berbagai kegiatan. Mulai mempersiapkan undangan, kebaya, catering, gedung, serta banyak lagi hal lainnya.

Namun selain Anda ada juga orang lain yang juga sibuk. Namun bukan sibuk mengurus berbagai pernikahan Anda. Tapi sibuk memeberi “wejangan” atau nasehat. Misalnya nenek tercinta. Memang berbeda adat, berbeda pula sistem pernikahan yang ditetapkan. Namun, semua orang tua pasti mengingatkan kita akan mitos-mitos dan cerita seram jika Anda tidak melanggar semua mitos itu.

Untuk itulah ada kebudayaan yang mengharuskan sang wanita dipingit, tidak boleh banyak keluar rumah, tidak boleh bertemu pasangan dan masih banyak lagi hal lainnya. Tapi, apakah mitos itu ada benarnya? Berikut beberapa mitos seputar pernikahan.

  • Perkawinan selalu menuntut romantisme.

    Fakta: Kita hidup dalam dunia nyata. Bukan dalam dongeng atau sinetron. Romantis bukan berarti Anda harus ke mana pun berdua, kan? Atau mesra tiap saat sampai orang jengah melihatnya. Romantis bisa diwujudkan dengan cara sederhana, seperti berbagi cerita saat pulang kantor, berbagi sepotong burger, membantu memasak atau memilihkan kemeja kerja tiap pagi.

  • Menikah = menjadi dewasa.

    Fakta: Benar. Sebuah nasihat lama mengatakan, seseorang bisa dikatakan dewasa jika ia berani mengambil keputusan untuk menikah. Menikah memang tak bisa langsung menjadikan Anda lebih dewasa. Namun, tanggung jawab yang ada di pundak yang akan mengajarkan menjadi dewasa. Menikah memang bukan keputusan yang mudah, karena perkawinan yang sukses membutuhkan kerja keras antara kedua belah pihak secara terus-menerus.

  • Perkawinan Yang Bahagia Tidak Ada Konflik.

    Fakta: Memang konflik yang tak kunjung selesai akan mengikis kebahagiaan. Namun, yang sangat bahagia pun tidak akan lepas dari konflik. Tiap orang punya ketakutan dan impian yang berbeda. Dan mereka punya cara sendiri dalam menyelesaikan konflik. Yang tidak bahagia, akan saling menyalahkan dan saling menyakiti. Sedangkan yang berbahagia, berusaha saling mengerti dan membantu jalan keluar terbaik, tanpa saling menyakiti.

  • Untuk Menikah, Lelaki dan Perempuan Harus Memiliki Pemikiran dan Kebiasaan Hidup Yang Sama.

    Fakta: Secara fisik, lelaki dan perempuan diciptakan sebagai makhluk yang berbeda. Apalagi secara psikologis. Justru dengan pernikahan bisa menyatukan 2 perbedaan untuk satu tujuan. Perbedaanlah yang akan membuat Anda dan dia saling belajar memahami, bekerjasama, menghormati dan mendukung.

  • Perkawinan ibarat menuruni gunung.

    Fakta: Memang, sejak mencapai puncak kebahagiaan saat bulan madu, kebahagiaan akan terus mundur, mungkin sampai usia tua. Ada perkawinan yang setelah ‘mundur’, pantang maju lagi. Biasanya perkawinan seperti ini tak bertahan lama. Namun, ada penelitian yang menunjukkan bahwa kebahagiaan perkawinan jadi makin besar dengan bertambahnya usia. Jadi, tergantung Anda berdua, akan membiarkannya terus mundur atau menghentikannya dan kembali bergerak maju seperti masa pacaran.

  • Kunci sukses penikahan awet adalah keberuntungan dan romantisme cinta.

    Fakta : Lebih dari sekedar keberuntungan dan cinta, alasan lebih umum pasangan sukses memiliki pernikahan yang awet adalah komitmen dan kebersamaan. Mereka mendefinisikan pernikahan mereka sebagai sebuah kreasi yang memerlukan kerja keras, dedikasi dan komitmen.

  • Anda dan pasangan akan selalu berbagi segala hal

    Fakta : Banyak perempuan beranggapan, saat menikah pasangannya akan menghabiskan waktu hanya dengannya. Banyak pertengkaran berawal dari persepsi ini. Ahli mengatakan, meski ia pangeran yang dikirim dari langit untuk mendampingi Anda selamanya, belum tentu ia akan bersedia menghabiskan waktu dua jam hanya untuk menemukan warna sepatu yang sesuai dengan tas pesta Anda.

    Anda harus membicarakan dengannya apa saja yang Anda berdua inginkan untuk bisa dibagi. Sejauh mana Anda berdua memiliki privasi untuk diri sendiri? Bicarakan hal ini sebelum ekspektasi memicu rasa putus asa. Tentu saja semakin banyak hal yang bisa dibagi berdua, akan semakin baik dampaknya bagi hubungan perkawinan Anda.

  • Perkawinan akan membuat orang bahagia

    Fakta : Memang perkawinan boleh dibilang bisa membuat orang menjadi bahagia dan tenang dalam hidupnya. Namun itu tergantung pada kualitas pernikahan itu sndiri. Anda tidak mungkin merasa bahagia kalau sehari-hari hanya bertengkar dengan pasangan Anda. Kita tidak dapat mengharap pasangan kita menjadi sumber kebahagiaan kita. Kebahagiaan diri kita harus berasal dari dalam diri kita sendiri. Perkawinan melengkapi kebahagiaan pribadi kita tapi bukan merupakan sumber utama kebahagiaan. (gal/bbs)

 
Komentar Anda
ADVERTISEMENT
Koskosanku.com

Artikel Lainnya